Pagi itu, seperti biasa, aku menaiki bus merah Trans Jateng menuju Uxxxxxn. Tidak ada yang istimewa pada awalnya. Aku hanya naik, mencari tempat duduk, lalu menikmati perjalanan seperti biasanya.

Sampailah pada saat aku harus membayar ongkos perjalanan.

Aku mengeluarkan selembar uang seribu rupiah, lalu menyodorkan kartu mahasiswa.

Sesaat, aku menangkap sebuah tatapan dari kondektur. Tatapan yang entah mengandung rasa heran, percaya atau tidak percaya. Aku pun tidak benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Tetapi tatapan itu justru menimbulkan sesuatu yang kecil dalam pikiranku.

“Benarkah ibu ini mahasiswa?”

Gemini_Generated_Image_tkcaaetkcaaetkca

Pertanyaan itu mungkin hanya lahir dari pikiranku sendiri. Namun sepanjang perjalanan Sxxxxxxxg–Uxxxxxxn, pertanyaan sederhana itu justru menjadi sesuatu yang menggelitik hati.

Aku tersenyum dalam diam.

Ternyata, selembar uang seribu rupiah dan sebuah kartu mahasiswa bisa mengajarkan sesuatu yang begitu besar.

Kartu itu bukan sekadar tanda bahwa aku seorang mahasiswa. Bagiku, kartu itu adalah pengingat bahwa belajar tidak mengenal usia. Bahwa seseorang boleh memulai kembali, boleh bermimpi lagi, boleh merasa kecil, boleh pernah gagal, dan tetap mempunyai hak untuk terus bertumbuh.

Dan pagi itu aku kembali belajar tentang kerendahan hati.

Aku belajar bahwa tidak semua tatapan harus aku artikan sebagai penilaian. Tidak semua sikap orang lain harus aku bawa ke dalam hati. Bisa jadi apa yang aku rasakan hanyalah cara pikirku sendiri dalam membaca sebuah keadaan.

Maka aku ingin belajar untuk tidak mudah merasa bahwa aku harus selalu dihargai, dimengerti, atau diperlakukan sesuai dengan apa yang kuharapkan.

Aku ingin belajar menjadi manusia yang tetap rendah hati ketika dihargai, tetap tenang ketika tidak dihargai, tetap terbuka ketika dikritik, dan tetap percaya diri ketika diragukan.

Aku ingin mencintai apa yang sedang kujalani, bahkan ketika perjalanan itu melelahkan. Bahkan ketika revisi membuatku berkecil hati. Bahkan ketika ada kata-kata yang terasa menyakitkan. Bahkan ketika aku merasa seolah-olah tidak cukup baik.

Karena mungkin, justru di situlah aku sedang ditempa.

Aku tidak harus selalu membuktikan kepada semua orang bahwa aku mampu. Aku tidak harus memaksa setiap orang untuk mengerti perjuanganku. Aku hanya perlu terus berjalan, belajar, memperbaiki diri, dan memberikan yang terbaik yang aku mampu.

Pagi itu, di dalam bus merah yang berjalan menuju Uxxxxxn, aku mungkin hanya membawa uang seribu rupiah dan sebuah kartu mahasiswa.

Tetapi tanpa kusadari, aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga:

sebuah pelajaran tentang percaya diri tanpa kesombongan, keterbukaan tanpa kehilangan diri sendiri, dan kerendahan hati tanpa merasa rendah.

Gemini_Generated_Image_a2wvina2wvina2wv

Aku ingin terus belajar.

Bukan hanya belajar untuk mendapatkan gelar, tetapi belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Dan jika suatu hari nanti aku kembali merasa kecil karena perkataan seseorang, kembali merasa tidak dihargai, atau kembali mempertanyakan diriku sendiri, semoga aku mengingat pagi itu.

Pagi ketika selembar uang seribu rupiah dan sebuah kartu mahasiswa mengingatkanku:

Aku tidak perlu menjadi lebih tinggi dari siapa pun untuk merasa berharga. Aku hanya perlu terus bertumbuh, tetap rendah hati, dan mencintai perjalanan yang sedang Tuhan izinkan untuk kujalani.

 

Sebuah refleksi kecil dipagi itu jumat, 21 Agust,26

(NN)