Perayaan Pesta Kaul Hidup Membiara Para Suster OSA

Dalam Pesta Santo Augustinus – 28 Agustus 2026

Tanggal 28 Agustus 2026 menjadi hari yang istimewa dan penuh sukacita bagi Kongregasi Suster Santo Augustinus dari Kerahiman Allah. Pada hari ini, seluruh komunitas merayakan Pesta Santo Augustinus sekaligus mengungkapkan syukur atas kesetiaan para suster dalam menjalani panggilan hidup membiara.

Gemini_Generated_Image_y0fuzly0fuzly0fu

Perayaan tahun ini semakin istimewa karena menjadi kesempatan untuk mensyukuri perjalanan panggilan beberapa suster yang memperingati 60 tahun, 40 tahun, 25 tahun, dan 12,5 tahun Kaul Hidup Membiara. Perayaan tersebut dilaksanakan secara khusus di Lingkungan Biara Pusat Ketapang dan menjadi ungkapan syukur seluruh Kongregasi atas rahmat serta penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan hidup para pestawati.

Rangkaian Perayaan

Rangkaian perayaan diawali pada 27 Agustus 2026 sore dengan Ibadat Meriah Santo Augustinus. Setelah itu, para suster menikmati makan malam bersama dan resepsi intern Kongregasi. Suasana persaudaraan semakin hidup melalui berbagai atraksi seni yang dipersembahkan oleh para suster serta pemberian hadiah kepada para pestawati.

WhatsApp Image 2026-08-27 at 21.01.05

Pada 28 Agustus 2026, setelah doa Brevir Meriah, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemberkatan patung Santo Augustinus di halaman depan Augustinian Spirituality Center (ASC), oleh Fr. Alberto C. Bartiana Jr, OSA .

WhatsApp Image 2026-08-28 at 07.45.26(1)

Selanjutnya para suster melakukan kunjungan ke makam para suster OSA sebagai ungkapan penghormatan dan kenangan akan para pendahulu yang telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanan panggilannya.

WhatsApp Image 2026-08-28 at 09.21.39

Setelah sarapan dan persiapan pesta, sore harinya dilaksanakan Perayaan Ekaristi Meriah Konselebrasi di ASC. Perayaan dipimpin oleh Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, Pr., bersama delapan imam. Perayaan Ekaristi diikuti secara offline dan online, sehingga sukacita syukur dapat dirasakan oleh para suster dan umat yang berada di berbagai tempat.

WhatsApp Image 2026-08-31 at 06.28.17

Perayaan kemudian dilanjutkan dengan resepsi, makan malam, dan pentas seni yang melibatkan para siswa dan guru dari sekolah YPKF, Fatimakustik YPKA, serta para suster.

WhatsApp Image 2026-08-31 at 06.39.17

Triduum: Mempersiapkan Hati untuk Bersyukur

Sebelum memasuki pesta, para pestawati mengikuti Triduum bersama RD. Laurentius Sutadi, Vikjen Keuskupan Ketapang. Dalam kesempatan tersebut, para suster diajak untuk kembali melihat perjalanan panggilan mereka, mensyukuri karya Allah dalam hidup, serta membagikan refleksi berdasarkan motto hidup masing-masing.

WhatsApp Image 2026-08-27 at 10.57.04

Sr. Agneta, OSA – 60 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Aku berada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” (Luk 22:27b)

Enam puluh tahun kehidupan membiara menjadi kesaksian tentang kesediaan untuk terus melayani. Panggilan bukan terutama tentang diri sendiri, melainkan tentang menghadirkan kasih Allah melalui pelayanan yang sederhana, setia, dan tulus.

Sr. Regina, OSA – 60 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Akulah Pokok Anggur dan kamu ranting-rantingnya.” (Yoh 15:5)

Perjalanan panjang dalam panggilan mengingatkan bahwa kekuatan seorang religius bersumber dari persatuan yang terus-menerus dengan Kristus. Seperti ranting yang hidup karena tinggal pada pokok anggur, demikian pula hidup membiara menemukan kekuatan ketika senantiasa tinggal dalam kasih Tuhan.

Sr. Immaculata, OSA – 40 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20)

Empat puluh tahun perjalanan hidup membiara merupakan perjalanan yang panjang, dengan berbagai pengalaman suka dan duka. Bagi Sr. Immaculata, hidup membiara merupakan harta yang berharga dan mutiara yang indah, karena di dalamnya ia mengalami kasih Allah melalui Yesus Kristus yang menderita dan wafat di kayu salib.

Pengalaman dikasihi dan kedekatan dengan Allah menghadirkan sukacita. Dalam perjalanan sehari-hari, ia menemukan kembali “mutiara” kehidupan melalui iman akan Yesus yang senantiasa menyertainya. Karena itu, kerinduan yang terus tumbuh adalah semakin mendekati Kristus yang telah diabdinya sampai hari ini.

Sr. Lucia Wahyu, OSA – 40 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Aku jatuh cinta kepada kebijaksanaan dan kucari sejak masa mudaku…” (Keb. Salomo 8:2a; 9a)

Empat puluh tahun panggilan menjadi perjalanan mencari dan mencintai kebijaksanaan Tuhan. Kesetiaan dalam panggilan menjadi proses terus-menerus untuk belajar mendengarkan suara Allah dan menemukan kehendak-Nya dalam setiap pengalaman kehidupan.

Sr. Odilia, OSA – 25 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (Mat 19:26)

Perjalanan 25 tahun diwarnai berbagai pengalaman suka dan duka, terutama dalam tugas-tugas pelayanan yang dipercayakan Kongregasi. Dalam situasi sulit, Sr. Odilia belajar berkata dalam hati, “Tuhan, untuk-Mu pasti aku bisa.”

Ia menyadari bahwa campur tangan Tuhan hadir melalui berbagai peristiwa hidup. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, ia berusaha tetap terbuka kepada Roh Kudus melalui hidup berkomunitas, berkarya, belajar terus-menerus, serta meneladani para suster senior. Semua itu menjadi rahmat yang memampukannya untuk tetap setia menjalani panggilan hingga saat ini.

Sr. Teresa, OSA – 25 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Aku senang bermegah atas kelemahanku, agar kekuatan Kristus tinggal dalam diriku.” (2 Kor 12:9b)

Motto ini mengingatkan bahwa kelemahan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan ruang bagi Kristus untuk menyatakan kekuatan-Nya. Dalam panggilan, seorang suster tidak dituntut untuk menjadi sempurna, tetapi dipanggil untuk membiarkan Kristus berkarya melalui dirinya.

Sr. Natalia, OSA – 12,5 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah… tetapi Tuhan melihat hati.”

Selama 12,5 tahun menjalani hidup membiara, Sr. Natalia semakin menyadari bahwa panggilan bukanlah jalan yang selalu mulus. Ada sukacita yang menguatkan, tetapi juga ada tantangan, kelemahan, kekecewaan, dan air mata. Semua pengalaman itu menjadi cara Tuhan membentuk dan mematangkan dirinya.

Motto “Tuhan melihat hati” menjadi pegangan yang meneguhkan. Manusia mungkin hanya melihat keberhasilan, kekurangan, atau kesalahan dari luar. Namun Tuhan melihat jauh lebih dalam: niat, ketulusan, perjuangan, dan kerinduan untuk tetap setia.

Ia menyadari bahwa hidup panggilan bukan tentang menjadi sempurna. Ia dipanggil bukan karena kuat atau hebat, melainkan karena Tuhan berkenan bekerja melalui dirinya.

Karena itu, pelayanan hendaknya dilakukan bukan demi pujian, melainkan karena cinta kepada Tuhan dan sesama. Dua belas setengah tahun perjalanan mengajarkan bahwa yang terutama bukan seberapa banyak yang dilakukan, tetapi dengan hati seperti apa semuanya dilakukan.

Apakah melayani dengan kasih?
Apakah tetap setia dalam kesulitan?
Apakah mau mengampuni dan menerima?

Kesetiaan Tuhan jauh lebih besar daripada kelemahan manusia. Karena itu, Sr. Natalia ingin terus melangkah dengan sederhana, tulus, rendah hati, setia, dan penuh kasih, sambil menyerahkan masa depan panggilannya kepada Tuhan.

“Tuhan melihat hati” — dan itu sudah cukup untuk membuat saya terus bangkit dan berjalan bersama-Nya.

Sr. Zita, OSA – 12,5 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Selama 12,5 tahun menjalani panggilan hidup membiara, ayat ini menjadi pegangan untuk terus berproses dalam iman, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.

Penyerahan diri bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, seseorang tetap melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Tuhan.

Teladan Maria mengajarkan bahwa Tuhan dapat berkarya melalui orang yang sederhana. Maria tidak memiliki kekuasaan besar, tetapi karena kesediaannya berkata “Ya” kepada Tuhan, hidupnya menjadi bagian dari karya keselamatan Allah.

“Tuhan, saya menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Jadikanlah saya alat bagi kehendak-Mu. Bukan kehendakku yang terutama, melainkan kehendak-Mu yang terjadi dalam hidupku. Amin.”

Sr. Agnes, OSA – 12,5 Tahun Kaul Hidup Membiara

“Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mzm 23:1)

Motto ini menjadi pondasi yang mendalam bagi kehidupan membiara Sr. Agnes. “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku” menjadi muara kesetiaannya untuk menyerahkan diri secara total kepada Tuhan sebagai Gembala sejati yang memelihara, melindungi, dan memampukannya menghadapi setiap gejolak serta tantangan hidup.

Setiap pagi, melalui doa, hidup bersama, dan karya pelayanan, ia kembali meneguhkan keputusan untuk mempercayakan seluruh hidup, jiwa, dan raganya ke dalam tangan Gembala yang Baik.

Dalam penyertaan Tuhan melalui pemimpin komunitas, pembimbing rohani, serta pembinaan dalam Kongregasi, ia dimampukan menjalani tiga kaul yang telah diikrarkan dan terus dihidupinya hingga 12,5 tahun.

“Terima kasih Tuhan atas pemeliharaan-Mu sepanjang hidupku ini.”

Syukur yang Mengikat dalam Persaudaraan

Sebagai ungkapan syukur, para pestawati menyampaikan terima kasih yang diwakili oleh Sr. Lucia Wahyu, OSA kepada Sr. Ignatia, para Suster DPU, Sr. Dionne, Sr. Maranatha, para PIKO, dan seluruh suster di berbagai tempat.

Dengan penuh sukacita, para pestawati mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan doa dan berbagai hadiah yang diterima. Mereka merasakan bahwa cinta Kongregasi dan seluruh suster sungguh luar biasa, terutama dalam perayaan perjalanan hidup membiara selama 60 tahun, 40 tahun, 25 tahun, dan 12,5 tahun.

Kongregasi dan para suster telah memberikan kualitas hidup yang luar biasa sehingga mereka mampu bertahan dan setia dalam panggilan hingga saat ini. Semangat Santo Augustinus menjadi inspirasi untuk terus bertumbuh dalam kasih:

“Aku mengasihi Dikau. Dan seandainya terlalu kurang, maka aku ingin mengasihi Dikau lebih lagi.”

Pengalaman rohani tersebut terus dihidupi dalam tugas perutusan dan karya pelayanan sebagai Suster OSA. Janji persaudaraan untuk saling mendampingi dalam perjalanan panggilan menjadi kekuatan, terutama ketika seseorang mengalami kerapuhan atau tersesat dalam perjalanan hidup membiara.

Penutup: Setia Sampai Akhir

Perayaan Pesta Kaul Hidup Membiara bukan sekadar mengenang lamanya tahun pengabdian. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali jejak kasih dan kesetiaan Allah dalam setiap perjalanan panggilan.

60 tahun, 40 tahun, 25 tahun, dan 12,5 tahun bukan sekadar angka. Di baliknya terdapat begitu banyak doa, pengorbanan, pelayanan, perjuangan, sukacita, air mata, kegagalan, pengampunan, dan pengalaman akan kasih Allah.

Setiap pestawati memiliki motto yang berbeda, tetapi semuanya bermuara pada satu keyakinan: Tuhanlah yang memanggil, Tuhan pula yang menyertai dan memampukan untuk tetap setia.

Semoga pengalaman perjalanan hidup para pestawati menjadi kesaksian bagi seluruh anggota Kongregasi bahwa panggilan akan terus bertumbuh ketika dihidupi dalam iman, kasih, kerendahan hati, persaudaraan, pelayanan, dan penyerahan diri kepada Allah.

Dengan rendah hati, para pestawati juga memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan yang mungkin terjadi dalam perjalanan hidup dan persaudaraan.

WhatsApp Image 2026-08-28 at 07.36.22

Selamat merayakan kesetiaan dalam panggilan.
Terima kasih atas cinta yang telah diberikan.
Teruslah berjalan bersama Kristus dalam semangat Santo Augustinus.

IN DEUM!

Menuju Allah, sumber panggilan, kasih, dan kesetiaan kita.

(Sr. M. Brigitta Wijaya, OSA)