(23 MEI 1953 – 23 MEI 2013)

“Lebih mementingkan kepentingan komunitas merupakan ukuran kemajuanmu”. Pesan dari St. Augustinus ini memotivasi para suster bersama panitia yang ada untuk mensukseskan perayaan syukur 60 tahun komunitas OSA di Tumbang Titi.

Rangkaian perayaan syukur ini diawali dengan reuni bagi para alumni asrama puteri “Bina Nazareth” Tumbang Titi pada tanggal 23-25 Juni 2013, yang karena situasi dan komunikasi yang tidak lancar hanya dihadiri oleh 31 orang saja. Acara reuni diawali dengan misa peMgr. Pius bersma para sr & anak asr.resizedmbuka oleh P. Albert Cemis, Pr dan selanjutnya diisi dengan berbagai kegiatan yang didampingi oleh Sr. Agustini, OSA dan Sr. Gabriella, OSA.

Menjelang acara puncak yang diadakan pada hari Senin 24 Juni 2013, pada pk. 13.00 WIB diadakan acara penyambutan kedatangan uskup Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi, Pr dengan acara adat Daya’ Pesaguan di depan gerbang susteran. Setelah menjalani prosesi adat, uskup beserta rombongan yang ada diarak ke komunitas suster OSA untuk beramah-tamah, makan siang bersama, dan istirahat sejenak sambil mempersiapkan diri untuk perayaan Ekaristi.

Pk. 15.00 WIB perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan dari halaman susteran menuju ke gereja St. Paulus Rasul Tumbang Titi. Perarakan dimulai dengan barisan para religius cilik masa depan yang mengenakan pakaian uskup, imam dan biarawan-biarawati yang berkarya di keuskupan Ketapang, disusul oleh pembawa persembahan, para suster OSA, misdinar, para imam, dan uskup. Ketika tiba di halaman gereja perarakan disambut dengan tarian adat dan selanjutnya dimulai prosesi menuju altar gereja. Begitu tarian selesai langsung disambut dengan lagu pembuka “Hymne OSA” yang dinyanyikan oleh Koor yang terdiri dari para suster OSA, ibu-ibu, dan anak-anak asrama puteri, dengan penuh khidmat dan semangat di bawah pimpinan bapak Supardjo. Selama perayaan seluruh lagu yang dinyanyikan bernuansa Daya’ dengan iringan orga dan gamelan Daya’yang dimainkan oleh Sr. Loretta, OSA (organis), Sr. Brigitta, OSA (gamelan melodi), Sr. Agustini, OSA (gong besar), Bapak Morco (gong kecil), dan Bapak Riwono (gendang).

Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat dan dalam kotbahnya Mgr. Pius bersyukur atas kehadiran para Suster OSA yang turut andil dalam perkembangan iman Katolik di paroki St. Paulus Rasul Tumbang Titi melalui karya pelayanan kesehatan, asrama, dan Taman Kanak-Kanak. Beliau juga menghimbau kepada umat agar tiap-tiap keluarga berusaha mengadakan doa bersama dalam keluarganya dan berjuang untuk menumbuhkan benih-benih panggilan kedalam hati putera-puterinya serta mendukung mereka untuk menapaki panggilan hidup sebagai imam, biarawan dan biarawati.

Setelah perayaan Ekaristi uskup beserta para imam dan semua petugas yang ada kembali melakukan perarakan menuju susteran dengan diiringi lagu penutup “Mars OSA”. Kemudian semua umat yang hadir di gereja beserta undangan dari berbagi kalangan menghadiri resepsi syukur di susteran. Acara resepsi diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Mgr. Pius dan dilanjutkan dengan makan bersama. Sementara menikmati hidangan yang telah disediakan para undangan dihibur dengan berbagai atraksi seni dari berbagai kelompok dan daerah/stasi-stasi dan diselingi dengan beberapa kata sambutan termasuk sambutan dari Pemimpin Umum Kongregasi Sr. Ignatia, OSA yang pada saat itu tidak dapat hadir karena sedang mengadakan kunjungan dewan ke Belanda bersama Sr. Adriana, OSA.

Resepsi berlangsung meriah dan dilanjutkan dengan acara bebas di mana para suster juga tidak ketinggalan untuk ikut berjoget ria ketika Sr. Loretta, OSA melantunkan lagu dangdut Daya’ ciptaannya yang VCD lagunya sudah beredar.

Menyaksikan seluruh rangkaian acara yang berlangsung meriah, maka segala kelelahan para panitia penyelenggara terasa sirna. Tidak terhitung pula berapa kali para suster dari Ketapang harus pulang pergi ke Tumbang Titi dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua untuk membawa berbagai perlengkapan mulai dari perlengkapan dekorasi, pakaian adat, dan terutama alat musik gamelan serta organ yang harus dibawa dengan ekstra hati-hati, dan lain sebagainya. Belum lagi kondisi jalan yang buruk yang sungguh-sungguh menguji ketahanan stamina. Syukur Tuhan atas segala Anugerah-Mu.

Kesesokan harinya, diadakan misa di komunitas bersama Mgr. Pius, dan selesai sarapan beberapa suster kembali ke Ketapang dan Mgr. Pius bersama beberapa suster melanjutkan perjalanan ke Paroki Marau untuk menghadiri tahbisan imamat Diakon Nedi, Pr oleh Mgr. Pius Riana Prapdi, Pr pada tanggal 26 Juli 2013. Sekian.

 

(Oleh Sr. M. Brigitta W, OSA)